Sabtu, 16 November 2013

Validitas dan Reliabilitas Skor Hasil Tes


Pendahuluan
Menurut Nurgiyantoro (2012:149), Tes sebagai salah satu alat pengukur hasil belajar peserta didik diharapkan mampu memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Artinya, alat tes dapat memberikan informasi tentang peserta didik sesuai dengan keadaan yang mendekati sesungguhnya. Hal itu menjadi penting karena informasi tersebut akan dipergunakan untuk mempertimbangkan dan kemudian memutuskan berbagai kebijakan baik yang berkenaan dengan peserta didik maupaun mata pelajarab secara umum.
Dua dasar permasalahan dalam penilaian adalah menentukan apakah sebuah tes telah mengukur apa yang hendak diukur dan apakah sebuah tes telah tepat digunakan untuk membuat suatu keputusan tentang pengambilan tes. Agar kita mengetahui bagaimana suatu tes itu dikatakan valid dan dapat mengukur sejauh mana tes itu bisa mengetahui kuliatas peserta didik.
Rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah  apakah itu validitas dan reliabilitas, apakah hubungan diantara keduanya dan apa saja macam-macamnya.
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian validitas dan reliabilitas, mengetahui hubungan diantara keduanya dan macam-macam validitas dan reliabilitas.





Teori
Gronlund  (Sumarna Surapranata, 2009:50),  mengatakan bahwa validitas berkaitan dengan hasil suatu alat ukur, menunjukkan tingkatan , dan bersifat khusus sesuai dengan hasil suatu alat ukur, menunjukan tingkatan, dan bersifat khusus sesuai dengan pengukuran yang akan dilakukan. Para pengembang tes memiliki tanggung jawab dalam membuat tes yang benar-benar reliable dan valid. Oleh karena itu validitas dapat digunakan dalam memeriksa secara langsung seberapa jauh suatu alat telah berfungsi.
    Konsep reabilitas (Saifudin Azwar , 2012:28) menyebutkan dalam Teori Skor-murni Klasik dapat difahami dari beberapa interprestasi. Suatu tes dikatakan sebagai memiliki reliabilitas yang tinggi apabila, misalnya, skor tampak tes itu berkorelasi tinggi dengan skor-murninya sendiri. Reliabilitas dapat pula ditafsirkan sebagai seberapa tingginya korelasi antara skor-tampak pada dua tes yang paralel.
Pembahasan
Definisi Validitas dan Reliabilitas
Validitas (Saifudin Azwar, 2012:8) berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauhmana akurasi suatu tes atau skala dalam menjalankan fungsi pengukurannya. Pengukuran dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila menghasilkan data yang secara akurat memberikan gambaran mengenai variable yang diukur seperti dikehendaki oleh tujuan pengukuran tersebut. Akurat dalam hal ini berarti tepat dan cermat sehingga apabila tes menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran maka dikatakan sebagai pengkuran yang memiliki validitas rendah.
     Sisi lain yang terkandung dalam pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu hasil ukur yang disebut valid, tidak sekedar merupakan data yang tepat menggambarkan aspek yang diukur akan tetapi juga memberikan gambaran yang cermat mengenai variable yang diukur. Cermat berarti bahwa pengukuran itu mampu memberikan gambaran dan makna terhadap perbedaan angka yang sekecil-kecilnya yang diperoleh oleh individu yang berbeda. Sebagai suatu contoh, dalam bidang pengukuran aspek fisik, untuk dapat mengetahui berat sebuah cincin emas maka harus digunakan alat penimbang berat emas agar hasil pengukurannya valid, yaitu memberikan gambaran berat yang tepat dan cermat. Sebuah alat penimbang badan memang juga tepat untuk mengukur berat cincin emas dikarenakan perbedaan berat yang sangat kecil (tapi penting) pada berat emas itu tidak akan terlihat pada alat ukur berat badan yang tidak memberikan gambaran perbedaan berat sampai pada satuan miligram.
     Reliabilitas (Saifudin Azwar , 2012:7)  merupakan penerjemahan dari kata reliability. Suatu pengukuran yang mampu menghasilkan data yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable). Walaupun istilah reliabilitas mempunyai berbagai nama lain seperti konsistensi, keterandalan, keterpercayaan, kestabilan, keajegan, dan sebagainya, namun gagasan pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu proses pengukuran dapat dipercaya.
     Hasil suatu pengukuran akan dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama,selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah. Dalam hal ini, relatif sama berarti tetap adanya toleransi terhadap perbedaan-perbedaan kecil yeng biasanya terjadi di antara hasil beberapa kali pengukuran. Bila perbedaan yang terjadi sangat besar dari waktu ke waktu maka hasil pengukuran tersebut tidak dapat dipercaya dan dikatakan sebagai tidak reliabel. Pengukuran yang hasilnya tidak reliabel tentu tidak dapat dikatakan akurat karena konsistensi menjadi syarat bagi akuarasi.
Hubungan Validitas dan reliabilitas
Menurut Nurgiyantoro (2012:150), meneybutkan jika validitas berkaitan dengan kelayakan penafsiran penggunaan skor hasil tes, reliabilitas berkaitan dengan masalah konsistensi hasil pengukuran. Konsisitensi berarti ajeg, tidak berubah-ubah. Misalnya, sebuah alat tes yang dicobakan kepada sekelompok peserta didik yang sama dalam waktu yang berbeda memberikan hasil yang hampir sama, dapat ditafsirkan bahwa skor hasil tes tersebut konsistensi, dan karenanya reliabel, dari waktu ke waktu. Atau jika ada beberapa guru menilai sekelompok peserta didik yang sama yang dites dengan alat ukur yang sama memberikan hasil yang kurang lebih sama, dapat ditafsirkan bahwa skor hasil tes tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi dari penilaian yang satu dengan penilaian yang lain. Jadi, jika validitas lebih berurusan dengan kelayakan penafsiran terhadap skor hasil tes. Reliabilitas berurusan dengan keajegan skor hasil tes. Ada keterkaitan antara keduanya. Reliabilitas atau konsistensi pengukuran dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang valid, tetapi reliabilitas dapat diperoleh tanpa harus valid. Oleh karena itu, sor hasil pengukuran dapat memunyai kualitas reliabel dan valid, tidak reliabel dan tidak valid, reliabel dan tidak valid.
Macam-macam validitas dan reliabilitas
a.    Macam-macam Validitas
1.    Validitas Isi
Validitas isi (Sumarna Supranata, 2009: 51) menyebutkan suatu alat ukur dipandang valid apabila sesuai dengan isi kurikulum yang hendak diukur. Salah satu cara yang digunakan untuk mennetukan validitas isi adalah dengan mengkaji isi tes itu. Sebuah tes misalnya terdiri atas 25 soal penjumlahan dan pengurangan sangta baik digunakan untuk mengukur kemampuan matematika dibandingkan dengan tes yang terdiri dari 10 soal tentang olahraga tetapi tidak ada hal-hal yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan. Validitas isi ditentukan dengan melihat apakah soal-soal yang digunakan telah menunjukkan sampel atribut yang diukur. Dengan demikian validitas isis sangan bergantung pada dua hal yaitu tes itu sendiri dan proses yang mempengaruhi dalam merespon tes.
2.    Validitas Konstruk
Validitas konstruk (Sumarna Supranata, 2009:53) mengandung arti bahwa suatu alat ukur dikatakan valid apabila telah cocok dengan kontruksi teoritik di mana tes itu di buat. Dengan kata lain sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila soal-soalnya mengukur setiap aspek berpikir seperti yang diuraikan dalam standar kompetensi, kompetensi dasar, maupun indikator yang terdapat dalam kurikulum. Konstruksi yang dimaksud pada validitas ini bukanlah merupakan konstruksi seperti bangunan atau susunan, tetapi berupa rekaan psikologis yang berkaitan dengan aspek-aspek ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
3.    Validitas Prediksi
Validitas prediksi (Sumarna Supranata, 2009:54) menunjukkan kepada hbungan antara tes skor yang diperoleh peserta tes dengan keadaan yang akan terjadi diwaktu yang akan datang. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi apabila mempunyai kemampuan untuk memprediksikan apa yang terjadi dimasa yang akan datang. Contoh sederhana misalnya apa yang terjadi pada penerimaan peserta tes berdasarkan hasil tes seleksi setelah mereka lulus SMA. Peserta tes yang memiliki nilai yang bagus di tes seleksi tersebut lalu diterima di perguruan tinggi, diperkirakan akan berhasil ketika mereka belajar di perguruan tinggi. Apabila hal itu terjadi, maka tes nasuk perguruan tinggi tersebut dikatakan memiliki validitas prediksi bagus. Sebaliknya, apabila hasil tes diperguruan tinggi kurang baik, maka tes seleksi dimaksud todak memiliki validitas yang bagus.
4.    Validitas Konkuren
Validitas konkuren atau validitas ada sekarang (Sumarna Supranata, 2009:55) menunjukkan pada hubungan tes skor dengan yang dicapai dengan keadaan sekarang. Validitas ini dikenal sebagai validitas empiris. Sebuah tes dikatakan memiliki concurent validity apabila hasilnya sesuai dengan pengalaman.
b.    Macam-macam Reliabilitas
1.    Reliabilitas Ulang Uji
Teknik ulang uji (Burhan Nurgiyantoro, 2012: 167) adalah teknik memerkirakan tingkat reliabilitas tes dengan melakukan kegiatan pengukuran dua kali terhadap tes yang sama kepada peserta didik yang sama pula. Hasil tes pertama dan kedua kemudian dikorelasikan. Jika koefisien korelasi (r) yang diperoleh cukup tinggi, hasil pengukuran tes yang diujicobakan itu dinyatakan reliabilitasnya tinggi.
2.    Reliabilitas Belah Dua
Teknik tes belah dua (Burhan Nurgiyantoro, 2012: 168) dilakukan dengan memisahkan skor hasil ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok ganjil dan kelompok genap atau kelompok awal dan akhir. Namun, yang lebih banyak dipergunakan orang adalah kelompok ganjil dan genap. Caranya ialah dengan menghitung jumlah skor untuk butir-butir soal yang bernomor ganjil dan yang bernomor genap. Kedua jumlah skor tersebut kemudian dikorelasikan untuk mendapat koefisien korelasi (r) antar keduanya.


3.    Reliabilitas Rumus Kuder-Richardson 20 dan 21
Pengujian reliabilitas tes dengan memergunakan rumus kuder-richardson 20 dan 21(Penilaian pembelajaran bahasa Indonesia berbasisi kometensi, 2012:169) dilakukan dengan membandingkan skor butir-butir tes. Jika butir-butir tes itu menunjukkan tingginya tingkat kesesuaian (degree of agreement), kita dapat menyimpulkan bahwa hasil pengukuran tes itu konsisten.
4.    Reliabilitas Alpha Cronbach
Reliabilitas Alpha Cronbach,  (Burhan Nurgiyantoro, 2012:171) diterapkan pada tes yang mempunyai nilai skor berskala dan dikhotomis sekaligus. Artinya, prosedur uji reliabilitas ini diterpakan pada hasil pengukuran yang berjenjang, misalnya: 1-4, 1-5, 1-6, atau yang lain bergantung maksud penyusunannya. Namun, jika dikehendaki, prosedur reliabilitas ini pun dapat diterapkan pada hasil pengukuran tes yang bersifat dikhotomis sebagimana halnya rumus reliabilitas K-R di atas, karena pada dasarnya keduanya sama, yaitu merupakan koefisien reliabiliitas komposit untuk semua butir tes.
5.    Reliabilitas Bentuk Pararel
Teknik butir pararel (Burhan Nurgiyantoro, 2012:172) dilakukan terhadap adanya dua perangkat tes yang bersifat pararel. Kedua perangkat tes itu dimaksudkan untuk mengukur tujuan atau kompetensi yang sama, dengan jumlah butir, susunan dan tingkat kesulitan yang kurang lebih sama. Jadi, dua perangkat tes yang dibuat berdasarkan spesifikasi yang sama. Untuk menguji reliabilitas hasil pengukuran tes, kedua perangkat tes tersebut diujicobakan kepada sejumlah subjek yang sma, kemudian hasilnya dikorelasikan. Tinggi rendahnya koefisien korelasi akan mencerminkan reliabilitas hasil pengukuran kedua peangkat tes itu.
Simpulan
Dari pemaparan materi diatas dapat kita simpulakn bahwa sebuah soal dikatakan valid apabila menghasilkan data yang secara akurat memberikan gambaran mengenai variabel yang diukur seperti dikehendaki oleh tujuan pengukuran tersebut. Dan dikatakan reliabel apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran dalam hal ini penilaian terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah.
Daftar Pustaka
Azwar, S. (2012). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Dr. E. Mulyasa, M. (2004). Analisis, Validitas, Reliabilitas, dan Interpretasi Hasil Tes. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nurgiyantoro, B. (2012). Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis kompetensi . Yogyakarta: BPFE.




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar